Kamis, 04 Desember 2008

Potensi Biomassa

Potensi Biomassa Lignoselulosa di Indonesia sebagai Bahan Baku Bioetanol:TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT
Etanol saat ini yang diproduksi umumnya berasal dari etanol gereasi pertama, yaitu etanol yang dibuat dari gula (tebu, molases) atau pati-patian (jagung, singkong, dll). Bahan-bahan tersebut adaah bahan pangan atau pakan. Banyak dugaan, terutama dari Eropa dan Amerika, menyebutkan bahwa konversi bahan pangan/pakan menjadi etanol menjadi salah satu penyebab naiknya harga-harga pangan dan pakan.
Arah pengembangan bioetanol mulai berubah ke arah pengembangan bioetanol generasi kedua, yaitu bioetanol dari biomassa lignoselulosa. Kabarnya komisi Eropa menargetkan di tahun 2014 bioetanol generasi kedua sudah bisa diproduksi secara besar-besaran. Saat ini para peneliti di belahan dunia itu sedang gencar mencari dan mengembangakn bioetanol generasi kedua ini. Mereka didukung dengan peralatan, fasilitas, dan pendanaan yang kuat. Negara-negara Skandinavia bahkan sudah bisa memproduksi bioetanol generasi kedua dalam skala pilot. Rasanya tidak lama lagi mereka akan mampu memproduksi dalam skala besar.
Salah satu problem mereka adalah masalah bahan baku. Biomassa lignoselulosa mereka terbatas. Apalagi mereka juga mengalami 4 macam musim yang sebagian musim itu tidak mendukung produksi biomassa lignoselulosa. Biomassa yang cukup besar antara lain adalah jerami-jeramian (wheat, oat, barley, corn). Mereka juga mencari tanaman-tanaman yang tumbuh cepat dengan potensi produksi biomassa besar. Salah satunya adalah Machantus sp (catatan: mungkin nama ini salah, akan aku perbaiki lagi kemudian). Tanamannya kalau dilihat dari fotonya sih mirip dengan rumput gajah.
Indonesia memiliki keunggulan dalam hal biomassa lignoselulosa dibandingkan negara-negara beriklim dingin. Kalau mereka mencari bahan baku, di sini malah kebalikannya. Biomassa lignoselulosa di Indonesia, melimpah, murah, tapi juga banyak yang disia-siakan. Ada banyak potensi biomassa lignoselulosa di Indonesia. Aku ingin menyampaikan di sini sebagian yang aku tahu. Aku harap, para pengambil kebijakan di negeri ini, para peneliti, para ilmuwan, para cendekia, para politisi sadar akan potensi ini.
Aku rasa, kita belum terlambat mengejar ketertinggalan kita dibandingkan dengan negara-negara eropa/skandinavia atau amerika untuk mengembangkan teknologi ini. Ini bukan perkara yang mudah. Untuk mewujudkannya perlu usaha bersama, perlu koordinasi yang tepat, perlu dukungan pendanaan, perlu fasilitas, perlu peralatan, perlu kajian mendalam, dan perlu dukungan kebijakan.
Kalau kita terlambat, maka mungkin teknologi luar yang akan masuk dan kita cuma bisa gigit jari. Bahan baku akan diekspor keluar dan kembali dalam bentuk bioetanol yang harus kita beli. Atau teknologi mereka masuk ke sini dan kita cuma jadi ‘kuli’ saja. Devisa akan lari keluar.
Sumber biomassa lignoselulosa antara lain adalah sebagai berikut:1. Limbah pertanian/industri pertanian : jerami, tongkol jagung, sisa pangkasan jagung, onggok, dll2. Limbah perkebunan: TKKS, bagase, sisa pangkasan tabu, kulit buah kakao, kulit buah kopi, dll3. Limbah kayu dan kehutanan: sisa gergajian, limbah sludge pabrik kertas, dll4. Sampah organik: sampah rumah tangga, sampah pasar, dllAku akan mulai dari yang aku tahu. Mungkin tidak sistematis atau datanya kadaluwarsa. Aku mohon jika ada pembaca yang tahu, punya informasi/data yang lebih akurat dapat membantu memperbaiki tulisan ini.
JERAMI PADI
Beberapa waktu yang lalu aku mengerjakan beberapa kajian/penelitian tentang kompos jerami. Berikutnya aku mencoba membuat
biopulp dari jerami. Pengalaman ini membuatku sedikit tahu tentang jerami. Waktu membuat kompos jerami aku sempat menghitung produksi jerami padi per ha. Waktu itu aku dapatkan angka 15 ton/ha jerami basa habis panen. Beberapa waktu kemudian aku dapatkan informasi dari orang pabrik kertas yang mensurvei jerami sebagai bahan baku pulp. Mereka memperoleh angka 10 ton/ha. Mungkin mereka tidak menyertakan daun-daun padi, karena daun tidak bisa jadi pulp.Dari papers oleh Kim and Dale (2004) menyebutkan bahwa rasio jerami/panen adalah 1.4 (berdasarkan pada berat kering massa). Artinya setiap produksi 1 ton akan menghasilkan jerami 1.4 ton. Misal produksi rata-rata beras di Jawa Barat adalah 6 ton maka jeraminya kurang lebih sebanyak 8.4 ton (berat kering). Moiorella (1985) menyebutkan bahwa setiap kg panen dapat menghasilkan antara 1 - 1.5 kg jerami padi. Data dari Moiorella rasanya lebih akurat.
Oke. Data dari BPS menyebutkan bahwa produksi beras nasional pada tahun 2006 kurang lebih sebanyak 54.7 juta ton dari 11.9 juta ha sawah. Berdasarkan data dari Moiorella maka jumlah jerami diperkirakan mencapai 54.7 sampai 82.05 juta ton (OD) jumlah yang sangat besar. Kandungan jerami menurut Karimi et al (2006) adalah sebagai berikut:
Komponen
Kandungan (%)
Hemiselulosa
27(+/- 0.5)
Selulosa
39(+/- 1)
Lignin
12(+/- 0.5)
Abu
11(+/- 0.5)
Potensi etanol dari jerami padi menurut Kim and Dale (2004) adalah sebesar 0.28 L/kg jerami. Sedangkan kalau dihitung dengan cara Badger (2002) (
lihat di sini) adalah sebesar 0.20L/kg jerami. Nah, dari data ini bisa diperkirakan berapa potensi etanol dari jerami padi di Indonesia, yaitu:
Jerami
Kim and Dale (2004)
Badger (2002)
54,700
15,316 juta liter
10,940 juta liter
82,050
22,974 juta liter
16,410 juta liter
Kita ambil data yang ‘pesimis’ yaitu cara Badger (2002), jumlah etanol tersebut dapat menggantikan bensin sejumlah: 7,915 - 11,874 juta liter. Cukup untuk memenuhi kebutuhan bensin nasional selama satu tahun.
Aku sadari potensi ini, maka aku coba untuk membuat proposal bioetanol dari jerami padi (
lihat di sini). Aku sudah lama bekerja dengan jerami dan aku yakin bisa membuat etanol dari jerami padi skala lab dalam waktu singkat. Tapi rupanya evaluator kacamatanya lain, sehingga tidak melihat potensi ini. Kata mereka proposalku tidak ada nilai ilmiahnya, tidak ada sesuatu yang baru, dan tidak layak dibiayai. Akhirnya proposalku tidak dibiayai.
Proposalku memang lebih ke riset aplikatif. Aku cuma ingin membuktikan hipotesisku bahwa etanol bisa dibuat dari jerami dan aku bisa melakukannya. Kalau dalam skala kecil berhasil, langkah selanjutnya adalah mikirim dalam skala pilot. Lalu skala pabrik. (
mimpi lagi…). Aku tidak terlalu menyesal, karena dana yang disediakan juga kecil.
Tetapi…..
Karena ngak ada biaya ya… terpaksa aku tunda penelitianku tentang bioetenol dari jerami ini. Padahal aku sudah separo jalan.
Ada yang mau membiayai…..?????!!!!!!
Konversi jerami menjadi etanol tidak semudah teorinya. Ada banyak kendala yang harus diatasi. Mungkin lain waktu aku posting di blog ini.

Tidak ada komentar: